Jakarta, MySharing – Bank Mega Syariah bekerja sama dengan ICMI Orwil DKI Jakarta menggelar forum Outlook Ekonomi Syariah Market Review: Q3-2026, Proyeksi FY 2026 dan 2027 di Menara Mega Syariah, Jakarta, Kamis (17/9).
Forum ini diselenggarakan sebagai wadah strategis untuk mempertemukan para pelaku usaha, akademisi, dan cendekiawan muslim guna melahirkan gagasan inovatif serta kontribusi nyata dalam memperkuat ekosistem keuangan dan ekonomi syariah di Indonesia.
Forum ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal sekaligus Ketua Orwil ICMI DKI Jakarta Ahmad Riza Patria. Kehadiran unsur pemerintah bersama pelaku industri, organisasi profesi, dan akademisi memperluas perspektif pembahasan mengenai peluang pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.
Pembahasan dalam forum juga memperkuat relevansi kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam menghubungkan industri keuangan syariah dengan aktivitas ekonomi produktif di berbagai daerah. Dengan mempertemukan beragam pemangku kepentingan dalam satu forum, peluang kerja sama dapat dibahas dari sisi pembiayaan, pengembangan usaha, hingga perluasan akses pasar tanpa bergantung pada satu sektor atau institusi saja.
- Bank Mega Syariah Gandeng Pegadaian Perluas Akses Layanan Haji dan Umrah
- Bank Mega Syariah Catatkan Pembiayaan Konsumer Tumbuh 17,7% per Juni 2026
- Dolar AS Menguat, Bank Mega Syariah Jaga Momentum Pertumbuhan Pembiayaan Produktif
- Bank Mega Syariah Catatkan Layanan Pembiayaan Emas Flexi Gold Tumbuh Signifikan
“Bagi Bank Mega Syariah, kolaborasi lintas sektor sangat krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi produktif yang berkelanjutan. Forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemangku kepentingan agar gagasan dan solusi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha dan masyarakat,” kata Direktur Bisnis Bank Mega Syariah Rasmoro Pramono Aji (atau disapa Oney) pada acara tersebut.
Di sisi lain, Bank Mega Syariah secara berkala terus mencatatkan kinerja keuangan dan intermediasi yang positif. Hingga Agustus 2026, total pembiayaan perseroan mencapai Rp10,38 triliun atau tumbuh 12,73% secara tahunan (yoy). Pembiayaan komersial menjadi kontributor utama sebesar Rp6,23 triliun (60,02% dari total portofolio), yang ditopang oleh sub-segmen corporate banking sebesar Rp4,75 triliun dan business banking sebesar Rp1,49 triliun. Sejalan dengan kinerja pembiayaan, Bank Mega Syariah juga membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp164,95 miliar hingga Agustus 2026, tumbuh 4,11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Oney menjabarkan, sektor pendidikan dan kesehatan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan korporasi Bank Mega Syariah karena memiliki fundamental yang kuat dan kebutuhan yang stabil. Selain itu, Bank Mega Syariah melihat peluang pembiayaan pada sektor infrastruktur, komoditas, perdagangan, transportasi dan logistik, serta industri jasa lainnya yang memiliki prospek usaha cerah, terutama bagi pelaku usaha berorientasi ekspor atau pendapatan berbasis valuta asing.
Melalui forum Outlook Ekonomi Syariah ini, seluruh pihak berdiskusi dan memetakan peluang serta tantangan industri keuangan syariah hingga 2027, mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah, industri halal, hingga perkembangan teknologi. Forum juga diarahkan agar gagasan yang dibahas tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kolaborasi yang lebih konkret antara industri keuangan syariah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan ekosistem ekonomi desa. Turut hadir dalam acara ini sejumlah pemangku kepentingan dari industri, organisasi profesi, dan akademisi.

