Jakarta, KNEKS dan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC-USK) bekerja sama dalam pengembangan hilirisasi bahan baku halal berbasis Minyak Nilam. Penguatan kerja sama ini ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama/Implementation Agreement yang diwakili oleh Putu Rahwidhiyasa (Direktur Bisnis dan Kewirausaaan Syariah KNEKS) dan Dr. Syaifullah Muhammad, ST (Kepala ARC USK), Jum’at (11/9) di Jakarta.
Dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri halal dan UMKM halal, salah satu program strategis adalah penguatan Halal Value Chain. “Sertifikasi Halal membutuhkan ketersambungan rantai pasok dari hulu ke hilir. Dengan penyediaan bahan baku halal akan memudahkan industri pengolahan memenuhi jaminan produk halalnya”, jelas Putu.
”Berbagai penelitian Minyak Nilam yang dilakukan ARC sangat bermanfaat untuk menyediakan bahan baku alami yang halal untuk industri kosmetik dan farmasi. Hal ini juga mendukung penyediaan alternatif pengganti bahan baku kimiawi yang masih mengandalkan impor”, lanjut Putu.
ARC USK sangat menyambut baik berbagai dukungan dan fasilitasi yang dilakukan oleh KNEKS selama ini. “Sudah lebih dari 15 tahun ARC-USK melakukan penelitian dan pendampingan masyarakat untuk membangkitkan Kembali Minyak Nilam di Aceh yang dulu pernah menjadi produk unggulan Aceh”, jelas Syaiful. “Beberapa hasil penelitian telah mampu dikomersialisasikan oleh Industri. Saat ini kami sedang melakukan pengembangan Crystal Patchouli alami yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan kosmetik dan dibantu oleh KNEKS”, ujar Syaiful.
- Bank Muamalat Catat Kenaikan Jumlah Transaksi Top Up Kartu Uang Elektronik Hingga 180,52%
- Asosiasi DPLK dan DPLK Syariah Muamalat Inisiasi Sinergi Ekosistem Syariah bagi Sektor Informal
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
- BCA Syariah dan Istiqlal Halal Center Serahkan Sertifikat Halal untuk 49 UMKM
Akhir 2024, KNEKS telah menyampaikan Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Minyak Nilam ke beberapa Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Aceh. Dinilai dari nilai perdagangan ekspor dan impor, terdapat potensi masalah di masa mendatang.
“Nilai Ekspor Minyak Nilam mengalami kenaikan yang disebabkan terjadinya kenaikan harga jual yang belum dibarengi dengan penambahan luas lahan tanam. Harga Minyak Nilam sebelum Covid hanya 100ribu/Kg, beberapa hari terakhir ini mencapai 1,3 Juta/Kg. Bahkan beberapa tahun lalu pernah mencapai 2 Juta/Kg”, ujar Iqbal, Deputi Direktur Kemitraan dan Akselerasi Usaha Syariah KNEKS.
“KNEKS berkomitmen kuat untuk terus mendukung ARC-USK yang telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun Rantai Nilai Minyak Nilam. Bank BSI dan Pegadaian telah membantu perluasan lahan tanam, KemenkopUMKM telah membantu pabrik penyulingan, Bank Indonesia telah membantu penyusunan Rencana Strategis, Kemendiktisaintek telah membantu pendanaan hilirisasi penelitian dan masih banyak yang lain. Namun masih diperlukan ketersambungan di Industri Kosmetik dan Farmasi. Ini yang akan kita wujudkan dalam waktu dekat ini”, pungkas Iqbal.
Berbagai ikhtiar yang sudah dilakukan KNEKS dan ARC-USK sebelumnya masih belum usai. Masih diperlukan dukungan berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan Rantai Nilai Halal Minyak Nilam agar memberikan manfaat ekonomi kepada Petani, Penyuling, Distributor, Industri Bahan Baku dan Bahan Penolong, sampai kepada Industri Produk Jadi di sektor kosmetik dan Farmasi.

