DSN MUI : Zakat Saham Pertama di Dunia

Saham itu bukti kepemilikan atas aset  diperbolehkan untuk dijadikan objek zakat.

PT Henan Putihrai Sekuritas bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meluncurkan program Shadaqah dan Zakat Saham Nasabah (Sazadah). Direktur Dewan Syariah Nasional Institut Majelis Ulama Indonesia (DSN Institut MUI) Ahmad Azharudin Latif menegaskan tidak sembarang saham bisa dizakatkan.

Direktur Dewan Syariah Nasional Institut Majelis Ulama Indonesia (DSN Institut MUI) Ahmad Azharudin Latif mengatakan saham yang bisa dizakatkan adalah yang masuk Daftar Efek Syariah dan sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. Dengan begitu, diharapkan saham perusahaan yang diakadkan tidak melakukan penjualan barang atau jasa yang melanggar syariat Islam, seperti daging babi, minuman keras, riba, ataupun perjudian.

“Saham konvensional hanya bisa disalurkan dalam bentuk dana sosial, bukan zakat ataupun sedekah. Selain itu, saham konvensional bisa disalurkan apabila yang diambil adalah pokok dari pembelian saham. Namun hasil dividen yang diberikan kepada pemegang saham tidak bisa disalurkan.”Ujar Ahmad Azharudin Latif Seminar Grand Launching Sazadah (Zakat Saham Nasabah) di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/11).

Sekretaris Bidang Pasar Modal DSN-MUI, Ahmad Azharudin Latif mengatakan, potensi zakat sangat besar dengan asumsi umat Islam jumlahnya 80 persen di Indonesia dan saat ini sudah banyak perusahaan-perusahaan sekuritas yang memiliki trading syariah secara daring. Namun, untuk zakat saham ini baru dimulai oleh Henan Putihrai Sekuritas (HP Sekuritas).

“Secara syariah juga tidak ada persolaan karena saham itu kan harta. Nah, harta yang boleh dizakati itu  yang tumbuh dan berkembang. Karena saham itu bukti kepemilikan atas aset yang bisa tumbuh dan berkembang maka sangat diperbolehkan untuk dijadikan objek zakat,” ungkap Azhar ditemui di sela-sela Grand Launching Sazadah (Zakat Saham Nasabah) di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/11).

DSN MUI, lanjut dia, sifatnya mendorong dan memotivasi serta mengawasi jika ada aspek-aspek kesyariahan dari program zakat saham tersebut yang melanggar syariah.

Azharudin Latif mengatakan DSN MUI akan memberikan sertifikasi bagi perusahaan sekuritas yang ingin terlibat dalam penerapan zakat saham. Ia berujar nantinya DSN MUI juga terus memantau pengelolaan zakat saham sehingga apabila terjadi pelanggaran syariat akan ditindak secara tegas.

“Jika pengelolaannya tidak sesuai dengan syariat, tentu akan mendapat teguran. Kita akan cabut sertifikat dari DSN MUI,” ucapnya.

Menurutnya, program zakat saham tersebut menjadi permulaan yang bagus. Sebelumnya, HP Sekuritas juga meluncurkan program Berkah dengan memberikan contoh menyedekahkan 20 persen dari pendapatan net.

“Sekarang Henan mengajak yang lain para investor yang mau menzakatkan sahamnya Henan siap memfasilitasi bekerja sama dengan Baznas,” ucapnya.

Disampaikan dia,  berdasarkan diskusi dengan BEI dan perusahaan sekuritas, program zakat saham tersebut baru pertama kali di Indonesia dan di dunia. Meskipun saham sebagai objek zakat sudah lama menjadi pembahasan ulama sejak adanya saham.

“Tentu saham yang bisa dizakati itu yang masuk daftar efek syariah. Kalau jual beli babi atau minuman keras tentu saja tidak boleh dizakati. Zakat itu harta yang suci,” pungkas Azhar.

More Stories
Bank Danamon dan BNP Resmi Bergabung Secara Hukum