Suasana penandatanganan CMA PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah di Jakarta (12/10).

Bank Syariah Indonesia Punya Efek Bola Salju di Industri Keuangan Syariah

Perkembangan ekonomi syariah sepanjang 2021 akan sangat ditentukan kondisi perekonomian secara makro dan pengendalian pandemi Covid-19. Meski begitu, sejumlah tren positif terkait perkembangan ekonomi syariah beberapa waktu terakhir dapat menjadi katalis agar industri ini bisa tumbuh pesat pada tahun ini.

Menurut Direktur Utama Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) – Yusuf Wibisono dalam keterangannya baru-baru ini di Jakarta mengatakan, salah satu hal yang bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi syariah melejit adalah rencana merger tiga bank syariah anak usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni; PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri. Penggabungan usaha tiga bank syariah milik bank BUMN ini rencananya selesai pada 1 Februari 2021.

“Ada beberapa tren positif ekonomi syariah terkini, terutama konsolidasi perbankan syariah dengan merger 3 BUS BUMN, dan perkembangan pasar modal syariah yang semakin pesat, terutama penerbitan sukuk negara,” ujar Yusuf Wibisono.

Dia menegaskan, kehadiran bank hasil merger yang bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk., membuat Indonesia memiliki bank syariah bermodal dan beraset besar, yang dapat membawa snowball effect pada perkembangan industri keuangan syariah.

Menurut Yusuf Wibisono, dampak positif kehadiran Bank Syariah Indonesia terhadap perkembangan industri keuangan syariah akan tergantung dari keseriusan pemerintah memperbesar dan mengembangkan kapasitas bank ini ke depannya.

Karena itu, Yusuf berharap agar pemerintah serius terus mendukung keberadaan Bank Syariah Indonesia sehingga nantinya dapat masuk dalam kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) IV, atau kelompok bank-bank bermodal inti terbesar.

“Misal, tanpa tambahan injeksi modal, modal BSI ada di kisaran Rp20 triliun. Itu artinya belum bisa menjadi Bank BUKU IV. Tentu dampak BSI akan lebih optimal jika modal-nya ditambah agar bisa naik kelas jadi Bank BUKU IV,” ujarnya.

Yusuf juga menambahkan, tahun ini masih banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi syariah.  Sebagai contoh, kehadiran Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang awalnya banyak membantu akselerasi industri perbankan dan keuangan syariah, kini justru mengambil ceruk investor ritel.

Masuknya investor ritel untuk membeli SBSN secara tidak langsung memberi tekanan ke perbankan syariah. “Sukuk negara kini lebih banyak head to head dengan perbankan syariah dalam penghimpunan DPK, terutama melalui sukuk dana haji dan sukuk ritel, ini tentu tidak diharapkan,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso baru-baru ini mengatakan,  kehadiran Bank Syariah Indonesia bisa turut membantu program pemerintah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah. Saat ini, indeks literasi syariah nasional masih berada di angka 8,93 persen, jauh di bawah tingkat literasi masyarakat atas keuangan konvensional yakni 37,72 persen.

“Karena itu kita harapkan ke depan (Bank Syariah Indonesia) bisa akses ke segmen mikro dan UKM di daerah dengan cepat dibantu teknologi. Poin kedua, masyarakat kita adalah masyarakat illiterate. Literasi (syariah) hanya 8,93 persen, sangat rendah dibanding konvensional 37,72 persen. Ini tantangan kita. Kalau tidak, maka mereka tidak paham aksesnya, penggunaan teknologinya, mengenali risiko tidak bisa. Kami sambut baik literasi ini sangat penting terutama di daerah,” demikian ujar Wimboh.

 

More Stories
BSI Gelar Akad Massal KPR Sejahtera, Targetkan Penyaluran 1,1 Triliun