BNI Syariah Percepat Ekspansi Bisnis dengan Luncurkan Tiga Kantor Wilayah

BNI Syariah terus bergiat aktif di dalam melakukan ekspansi bisnisnya di tanah air. Bank umum syariah satu ini meluncurkan tiga kantor wilayah, yaitu wilayah Barat, Wilayah Timur dan Wilayah Jabodetabek Plus hari ini (8/2/2017) bertempat Hotel JS Luwansa, Jakarta.

Menurut Direktur Utama BNI Syariah – Imam T Saptono, peresmian tiga kantor wilayah tersebut, adalah dalam rangka mendukung percepatan ekspansi bisnis serta menjaga kualitas layanan melalui respon, aktifitas, dan program yang lebih customized kepada nasabah.

“Kantor-kantor wilayah ini membawahi kantor-kantor cabang di areanyha. Kantor wilayah ini juga berfungsi sebagai hub/coordinator SCO (sharia chanelling outlet) yang ada di kantor cabang BNI,” jelas Imam T Saptono.

Imam T Saptono menambahkan, pembentukan tiga kantor wilayah ini juga dilakukan dalam rangka terus mengoptimalkan kinerja bisnis BNI Syariah yang selama ini terus bertumbuh dengan signifikan.

“Alhamdulillah, kinerja BNI Syariah tahun 2016 mengalami pertumbuhan positif. Tercatat laba bersih Desember 2016 Rp 277,38 miliar atau meningkat 21,38 persen dari Desember 2015 sebesar rp 228 ,53 miliar. Meningkatnya laba ditopang oleh berbagai upaya pengembangan bisnis termasuk produk jasa dan layanan, baik pembiayaan produktif maupun konsumtif serta peningkatan dana murah (CASA),” ujar Imam.

Laba positif juga didukung oleh kualitas pembiayaan (NPF) yang terjaga dibawah 3% dan operasional perusahaan yang semakin efesien dengan penurunan rasio BOPO menjadi 87,67% pada akhir tahun 2016.

Sementara itu, disisi lain aset BNI Syariah terus tumbuh dengan posisi per Desember 2016 mencapai Rp 28,3 triliun atau naik 23,01% dari Desember 2015 yang sebesar Rp 23,02 triliun.

“Pertumbuhan aset ini disokong oleh adanya peningkatan dana pihak ketiga khususnya giro dan tabungan sebesar 25,41% dengan pencapaian DPK sebesar Rp 24,33 Triliun,” demikian Imam T Saptono, Direktur Utama BNI Syariah.

“Komposisi pembiayaan terbesar BNI Syariah masih terdapat di pembiayaan konsumtif sebesar Rp 10,92 triliun, diikuti dengan ritel produktif sebesar Rp 4,61 triliun, komersial sebesar Rp 3, 40 triliun, mikro sebesar Rp 1,20 triliun serta Hasanah card Rp 367,60 miliar,” pungkasnya