Saat ini, semakin banyak orang yang berbondong-bondong untuk berinvestasi emas. Emas diminati sebagai instrumen investasi, salah satunya karena nilainya yang tahan banting terhadap gejolak inflasi. Selain itu, emas memiliki karakteristik hedging atau lindung nilai yang kuat.

Namun bagaimanakah caranya berinvestasi emas? Dan emas jenis apakah yang terbaik dan layak dijadikan sebagai instrument berinvestasi?
Emas Murni 24 Karat
Secara umum emas murni 24 karat adalah yang paling menguntungkan untuk investasi emas, baik dalam bentuk batangan mauapun koin. Namun dari sisi likuiditas, emas koin lebih mudah dijual, karena satuan gramnya lebih kecil. Dalam praktiknya di masyarakat, koin emas lebih banyak peminatnya, terutama masyarakat dengan kemampuan daya beli kecil dan menengah. Biasanya koin emas tersedia dalam ukuran 2,5 gram, 10 gram. Sementara emas batangan paling kecil 10 gram.
Emas Perhiasan
Untuk investasi emas perhiasan, sebenarnya ini adalah kurang menguntungkan, karena, pertama, kadar karat emasnya tidak murni 24 karat, tetapi campuran dengan logam lain dengan karat 18 atau 22. Lalu kedua, ongkos pembuatannya juga cukup mahal. Selain itu, karena kemungkinan sesekali emas perhiasan ini dipakai pemiliknya, maka emas perhiasan ini risikonya bisa lebih cepat rusak, ketimbang emas batangan atau koin emas yang hanya disimpan saja, tidak dipakai.
Kenapa berinvestasi emas ini cukup menarik minat masyarakat? Jawabnya adalah, karena faktanya jarang sekali harga emas turun. Apalagi di beberapa negara konon mengalami penurunan produksi emas, sehingga dengan peningkatan kelangkaan emas, maka harganya cenderung akan selalu naik.
Kemudian, harga emas juga dipatok dalam USD, sehingga jika nilai USD menguat, umumnya harga emas juga meningkat.
Namun demikian, ada juga kelemahan berinvestasi emas ini, misalnya dari segi storage dan handling, menyimpan “hard asset” seperti emas juga relatif beresiko dan mahal. Selain itu, apabila penyimpanan kurang baik, memungkinkan terjadinya oksidasi dan perubahan warna, apalagi kalau jatuh, penyok, atau tercuil, bisa mengurangi harganya.
Bagaimanapun emas layak dijadikan salah satu pilihan dalam berinvestasi. Meski pilihan investasi emas tersebut bukannya tanpa risiko.
Asumsi yang paling umum dipakai mengenai harga emas adalah, bahwa dalam kondisi normal, harganya sejalan dengan inflasi. Namun dalam kondisi abnormal, harga emas bisa saja berfluktuasi. Karena itu, setiap investor harus menyesuaikan dengan profil risikonya, horison investasi serta tujuan investasinya. Investor juga harus memahami apa saja yang menyebabkan pergerakan harga emas di pasar domestik, antara lain: inflasi, terjadinya krisis financial, kurs nilai tukar rupiah/dollar, harga minyak mentah dunia, dan naiknya permintaan emas di pasar lokal.
Investasi emas itu sendiri sebenarnya lebih optimal digunakan untuk empat tujuan keuangan, yaitu : Pertama, mencapai tujuan keuangan jangka menengah (2-3 tahun). Kedua, mencapai tujuan keuangan tertentu yang biayanya setara dengan emas (misalnya, naik haji). Ketiga,mempertahankan nilai kekayaan dengan target pertumbuhan setara inflasi alias hedging. Dan keempat, diversifikasi. Jadi, misalkan anda sudah berinvestasi di saham, obligasi, reksadana, juga properti, kemudian anda juga bisa berinvestasi di emas. Meskipun demikian, untuk investasi emas ini harus tetap mempertimbangkan dengan cermat masalah penyimpanan dan keamanan.
Tips penting lainnya, investasi emas ini ada memiliki risiko. Karena itu, bagi anda yang hendak melakukan investasi emas, maka diharapkan anda juga memiliki investasi lainnya. Yang teraman adalah melakukan diversikasi atau mengalokasikan dana investasi secara proporsional ke berbagai jenis investasi dengan tingkat risiko yang berbeda.
Selamat berinvestasi emas!

