Selama yield di atas inflasi, maka obligasi dan Surat Utang Negara (SUN) Indonesia akan tetap menarik.

Presiden Direktur Eastspring Investments Indonesia, Riki Frindos menilai, yield surat utang (obligasi) Indonesia saat ini masih aktraktif. Menurutnya, selisih antara yield obligasi Indonesia dengan yield surat utang Amerika Serikat (AS) masih cukup lebar, sehingga investor tertarik berinvestasi pada obligasi Indonesia.
“Yield obligasi Indonesia berteror 10 tahun berada di level 8 persen. Yield ini sempat menyentuh level 9 persen, namun fluktuasi pasar modal menggerus yield hingga 100 basis poin,” kata Riki dalam media gathering Prudential : 2015 in Review dan Market Outlook 2016 di Hotel Shangrila, Jakarta, Senin (14/3).
Namun demikian, lanjut dia, yield 8 persen dinilai cukup menarik, ditambah lagi Surat Utang Negara (SUN) dapat dikatakan risk free (tanpa risiko). Sebab, investasi pada instrumen surat utang pemerintah dijamin negara. Investor akan melihat valuasi obligasi Indonesia. “Selama yield obligasi Indonesia di atas inflasi, maka akan tetap menarik,” tegas Riki.
- BCA Syariah dan Masjid Istiqlal Bersinergi Tingkatkan Inklusi Keuangan Syariah Lewat #BSyaInfak
- Meriahkan Iduladha 1447 H, Bank Muamalat Hadirkan Semarak Qurban Muamalat 2026
- Fitur Unggulan Muamalat DIN Topang Transaksi Nasabah Selama Ramadan
- Laba Sebelum Pajak Bank Muamalat Tumbuh 47,5% YoY pada 2025
Bahkan, kata dia, selisih yield obligasi Indonesia dengan US Treasury juga masih cukup besar. Saat ini US Treasury sekitar 1 persen. Jika US Treasury naik menjadi 3 persen sekalipun, yield Indonesia tetap atraktif. “Jika selisih yield kedua surat utang berkisar 3 persen hingga 5 persen pun, obligasi Indonesia tetap menarik,” tukas Riki.
