Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru bank syariah lebih disukai. Buktinya, Bank Syariah Mandiri (BSM) kebanjiran banyak nasabah baru yang menabung maupun pengajukan pembiayaan.

Sehingga menurutnya, gejolak perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan melemahnya rupiah justru berdampak baik bagi industri perbankan syariah. Terbukti, banyak nasabah baru baik yang menabung maupun pembiayaan. “Kami fokus pada sektor riil, jadi lebih aman sebenarnya,” kata Deasi kepada MySharing, saat ditemui di sela-sela iB Vaganzadi Mall Pejaten Village, Jakarta, Jumat pekan lalu.
Menurutnya, naik turunya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), justru memberikan keuntungan yang signifikan terhadap bank syariah. “Dengan menurunnya nilai tukar rupiah, sebenarnya kami diuntungkan karena ada limpahan nasabah dari bank konvensional,” ujarnya.
- BCA Syariah dan Masjid Istiqlal Bersinergi Tingkatkan Inklusi Keuangan Syariah Lewat #BSyaInfak
- Meriahkan Iduladha 1447 H, Bank Muamalat Hadirkan Semarak Qurban Muamalat 2026
- Fitur Unggulan Muamalat DIN Topang Transaksi Nasabah Selama Ramadan
- Laba Sebelum Pajak Bank Muamalat Tumbuh 47,5% YoY pada 2025
Ia mengakui, bahwa nasabah BSM mengalami peningkatan baik dari bisnis simpanan maupun pengajuan pembiayaan. Nasabah umumnya, memiliki bank syariah karenanya adanya jaminan kepastian. Bahkan, kata Deasi, banyak dari nasabah baru yang sengaja memindahkan uangnya dari bank konvensional ke bank syariah. Tujuannya adalah untuk menjaga-jaga apabila bank konvensional mengalami kebangkrutan karena dampak pelemahan ekonomi saat ini.
Ketertarikan masyarakat berbondong-bondong mengajuan pembiayaan, kata Deasi, dikarenakan masyarakat merasa lebih nyaman dan tidak terbebani fluktuasi ekonomi yang kini melemah.
“Orang tertarik mengajukan pembiayaan, alasannya sederhana. Yaitu karena pembiayaan bersifat tetap hingga jangka waktu cicilan 15 tahun pun tidak terpengaruh oleh naik turunnya dolar. Ya bank syariah pasti lebih memberikan kenyamanan,” pungkasnya.

