OJK : Pertumbuhan Pasar Modal Syariah Meningkat

Aset kelolaan reksadana meningkat 182 persen menjadi Rp 22 triliun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan perkembangan pasar modal syariah semakin baik dari waktu ke waktu. Hal itu terlihat dari beberapa angka indikator pasar modal syariah yang menunjukkan pertumbuhan.

Deputi Direktur Pasar Modal Syariah OJK, Muhammad Thoriq mengatakan, perkembangan pasar modal syariah semakin baik. Hal ini terlihat dari angka indikator pasar modal syariah yang menunjukkan pertumbuhan.

“Jumlah investor pemegang saham syariah saat ini mencapai 203 ribu investor, meningkat 100% dibandingkan 2015 baru sekitar 100 ribuan investor. Sedangkan jumlah pemegang unit efek reksadana ada 72 ribu investor, dibandingkan 2015 baru sekitar 50 ribu investor. “Dari sisi produknya, sudah ada 362 saham yang masuk dalam kategori syariah,” kata Muhammad Thoriq di acara Grand Launching Sazadah di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/11).

Selain itu, beliau mengungkapkan, sudah terdapat 172 reksadana syariah, tumbuh 192% dibandingkan lima tahun sebelumnya hanya berjumlah 58 reksadana. Aset kelolaan reksadana juga meningkat 182% menjadi Rp 22 triliun dari lima tahun yang lalu baru sekitar Rp 8 triliun.

“Angka-angka tersebut  perlu diapresiasi bahwa perkembangan pasar modal syariah semakin hari semakin baik,” imbuhnya.

Thoriq mengatakan, setelah didalami, pertumbuhan yang besar tersebut karena basisnya syariah yang kecil. Karenanya, tantangan ke depan yakni terus meningkatkan pertumbuhan dari posisi yang ada saat ini. Hal itu membutuhkan peran OJK, BEI dan industri secara bersama-sama.

Karena  berdasarkan hasil survei literasi nasional tantangan terbesar pasar modal adalah literasi, hanya 0,1%. “Artinya dari 10 ribu orang hanya 1% yang memahami pasar modal, apalagi yang syariah. OJK, BEI dan pelaku pasar semuanya bergerak bersama-sama,” ujarnya.

Deputi Direktur Pasar Modal Syariah OJK, Muhammad Thoriq mengatakan, bahwa OJK telah memiliki program-program pengembangan keuangan syariah dalam dua sampai lima tahun ke depan. Pertama, inovasi produk. Misalnya, zakat saham. OJK juga mengkaji produk-produk yang bisa mendorong pembangunan infrastruktur.

Kedua, OJK akan memulai bagaimana dana-dana sosial bisa berkontribusi dan bisa dikelola secara profesional di pasar modal. Serta, ketiga penguatan peran pelaku pasar yang dinilai sebagai ujung tombak agar pasar modal dikenal masyarakat.

Saat ini, OJK telah menerbitkan 10 regulasi terkait dengan pasar modal syariah. Paket peraturan tersebut diterbitkan pada 2015 yakni paket mengenai peraturan pasar modal syariah yang tidak diatur dalam pasar modal konvensional. Kemudian pada 2016 OJK menerbitkan mengenai aturan manajer investasi syariah dan unit pengelolaan investasi syariah. Aturan tersebut berlaku bagi sebuah perusahaan aset manajemen untuk mengelola reksadana syariah. Perusahaan bisa berbentuk unit atau bentuk entitas baru.

“Alhamdulillah tahun ini kita punya manajer investasi syariah dan ini yang pertama, yakni Paytren Asset Management. Ini menjadi yang pertama di Indonesia yang menerapkan full syariah. Mudah-mudahan ke depan ada manajer investasi lain yang mendorong perkembangan syariah,” pungkas Thoriq.

More Stories
CIMB Niaga Syariah Fasilitasi Penghimpunan Wakaf Digital