Pembiayaan Murabahah Dominasi BMT

Pembiayaan berakad murabahah tidak hanya mendominasi pembiayaan di perbankan syariah. Hal serupa juga terjadi di Baitul Maal wat Tamwil (BMT).

bmt bifAkademisi UIN Syariaf Hidayatullah Euis Amalia, memaparkan dari hasil penelitian bertajuk Implementasi Good Corporate Governance pada BMT (2014) terungkap bahwa BMT memberikan pembiayaan kepada mitranya dengan akad murabahah sebesar 50 persen. “Dari sisi penyaluran pembiayaan kebanyakan murabahah. BMT yang kebanyakan dekat dengan usaha mikro ternyata masih banyak yang pembiayaannya konsumtif murabahah saja,” jelasnya.

Dengan karakter BMT yang lebih dekat dengan masyarakat kecil dan usaha mikro, Euis sebelumnya mengharapkan pembiayaan bagi hasil bisa lebih banyak di BMT. Namun, ternyata pembiayaan murabahah (jual beli) masih mendominasi dengan setidaknya setengah porsi dari total portofolio pembiayaan. Baca: OJK Tinjau Ulang Produk Berskema Murabahah

Menurut Euis, masih banyaknya pembiayaan berakad murabahah di BMT praktis karena lebih pada pertimbangan risiko bisnis dan kemudahannya. “Seharusnya lebih banyak pembiayaan mudharabah dan musyarakah, tapi daripada pembiayaan bagi hasil tidak dianggap benar dan syariah, jadi ya murabahah saja karena kemudahan dari segi prosesnya,” jelasnya.

Dalam penelitiannya, untuk penyaluran dana BMT 2012-2014 setidaknya 50 persen pembiayaan BMT disalurkan dengan akad murabahah. Sementara, sisanya musyarakah 14 persen, mudharabah mutlaqah 9 persen, IMBT dua persen, ijarah satu persen dan akad lain 24 persen. Baca: Jual Beli dengan Akad Murabahah, Tidak Sulit

Dari sisi penghimpunan dana BMT sebagian besar menggunakan akad wadiah dengan porsi 44 persen. Sedangkan sisanya berupa tabungan mudharabah 37 persen dan deposito mudharabah sebesar 19 persen. Dari data Asosiasi BMT Seluruh Indonesia, terdapat lebih dari 5000 BMT dengan 22 ribu outlet di Indonesia. Total asetnya mencapai sekitar Rp 3,5 triliun.