Pengembangan bisnis BPRS dapat dilakukan pula melalui linkage program dengan bank umum syariah.

Direktur Utama BPRS Patriot Syahril T Alam menilai, BPRS cukup optimal dalam hal penyaluran dana, tetapi tidak demikian halnya di sisi penghimpunan dana, kecuali deposito. “Dengan begitu linkage program menjadi sumber dana yang besar juga bagi BPRS,” ujarnya.
Menurutnya, linkage program antara BUS dan BPRS harus lebih ditingkatkan agar sinergi perbankan syariah dapat lebih baik. “BUS tinggal menyalurkan dananya ke BPRS dengan plafon besar, nanti BPRS yang akan mencari nasabah mikronya,” jelas Syahril. Baca: BPRS Majukan UMKM Melalui Linkage Program dengan Bank Syariah
Pada tahun lalu BPRS Patriot sendiri belum menjalin linkage program dengan BUS karena masih mencatat angka rasio pembiayaan bermasalah (non performing finance/NPF) yang cukup tinggi. Pada 2015 NPF BPRS Patriot tercatat sebesar 7,5 persen, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 10 persen.
Di tahun ini, lanjut Syahril, BPRS Patriot pun akan berupaya menekan NPF hingga di bawah lima persen. Berdasar Statistik Perbankan Syariah OJK per Juni 2015 NPF BPRS tercatat sebesar 9,25 persen, atau sebanyak Rp 514,4 miliar dari total pembiayaan Rp 5,5 triliun.
[bctt tweet=”Per Juni 2015 pembiayaan bermasalah BPRS tercatat 9,25%”]

