BTPN Syariah Bukukan Pembiayaan Segmen Prasejahtera Produktif Rp 9,1 Triliun Kuartal III 2020

Di tengah kondisi bangsa yang masih terkendala pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, BTPN Syariah tetap mampu menunjukkan kinerja yang positif. Pembiayaan BTPN Syariah pada segmen prasejahtera produktif berpenghasilan rendah yang fokus dilayani BTPN Syariah, terus bertumbuh.

Pekerjaan bahu membahu yang dilakukan yang dilakukan oleh bankir pemberdaya (sebutan untuk karyawan BTPN Syariah), bersama dengan seluruh pemangku kepentingan mulai menampakkan hasil. Per September 2020, pembiayaan pada segmen prasejahtera produktif berpenghasilan rendah ini mencapai Rp 9,1 triliun, atau tumbuh 4% dari Q2 2020.

Pembiayaan produktif di tengah pandemic ini dijalankan dengan selektif dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Sehingga per September 2020 ini rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) tetap terjaga sebesar 1,9%, dibawah rata-rata industri.

“Alhamdulillah, kami bersyukur melihat nasabah kami yang sudah mulai bergeliat kembali. Kami juga mempelajari, selama masa pandemi ini, bahwa nasabah kami perlu terus melanjutkan usahanya untuk bertahan, serta melalui masa yang penuh tantangan ini.  Kami bantu mereka untuk mendapatkan pembiayaan baru, serta memastikan terjadinya perbaikan kondisi mereka (restructuring and recovery,” demikian diungkapkan Direktur Utama BTPN Syariah – Hadi Wibowo dalam keterangan pers BTPN Syariah baru-baru ini di Jakarta.

Hadi lalu menambahkan, “Komunikasi yang baik dengan mereka turut kami lakukan, terutama untuk senantiasa menjalankan dan menguatkan empat perilaku unggul dalam berusaha; BDKS (Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu). Perilaku inilah yang selalu dibangun oleh petugas lapangan kami (Community Officer) selama melakukan pelayanan kepada kelompok nasabah pembiayaan kami.”

Sampai akhir September 2020 ini, BTPN Syariah turut mempertahankan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) di posisi 43,1%. Total asset menjadi Rp 15,5 triiun, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi Rp 9,4 triliun.

Adapun Laba Bersih Setelah Pajak (NPAT) mencapai Rp 507 miliar, tumbuh signifikan dari akhir Q2 lalu. Selain itu, per Juli 2020, bank telah meningkat menjadi Bank Buku III.

 

 

 

 

 

More Stories
Kembangkan Dunia Pendidikan, Bank Syariah Indonesia Gelontorkan Pembiayaan