Suasana kegiatan InCoB 2019 dengan tema “Bioinformatics for Precision Medicine” di Gedung Universitas YARSI di Jakarta (10/9).

Universitas YARSI Dukung Kemajuan Bioinformatika Selenggarakan InCoB 2019

Universitas YARSI melalui Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik Informatika dan Pusat Penelitian Genetik,menyelenggarakan International Conference on Bioinformatics (InCoB) 2019 yang mengusung tema “Bioinformatics for Precision Medicine”,  yang  dilangsungkan di Gedung Universitas YARSI, Jakarta, pada tanggal 9-12 September 2019.

Menurut Rektor Universitas Yarsi – Prof dr H Fasli Jalal, PhD, latar belakang Universitas YARSI menyelenggarakan InCoB 2019 adalah untuk berkontribusi dalam mempercepat kemajuan bioinformatika di Indonesia.

“Bidang ilmu bioinformatika saat ini mengalami peningkatan popularitas yang luar biasa di Indonesia maupun di seluruh dunia, disebabkan oleh ledakan data biologis. Perkembangan ilmu bioinformatika di Indonesia sendiri bisa dibilang agak lambat bila dibandingkan dengan negara-negara tetangganya di kawasan Asia Pasifik. Namun saat ini, berbagai universitas di Indonesia telah memasukkan mata kuliah bioinformatika ke dalam kurikulumnya. Selain itu, penelitian yang menggunakan bioinformatika semakin populer di Indonesia,” papar Fasli Jalal.

Menurut Fasli Jalal,  selama beberapa tahun terakhir Universitas YARSI bekerja sama dengan Asia Pacific Bioinformatics Network (APBioNet)  telah menyelenggarakan berbagai seminar dan workshop di bidang yang berkaitan dengan bioinformatika, seperti Introductory Bioinformatics Workshop 2017, International Symposium on Bioinformatics (InSyB) 2017 yang diadakan untuk pertama kalinya di Indonesia, Bioinformatics Colloquium 2018 dan Bioinformatics Workshop Fiesta 2018. Kegiatan-kegiatan tersebut mendapatkan animo yang besar dari dari komunitas ilmiah maupun industri di Indonesia dan negara tetangga.

Dirjen Kemristekdikti – Dr M. Dimyati sangat menyambut baik komitmen Universitas YARSI menyelenggarakan InCoB  2019 ini.

“Saya menyambut gembira penyelenggaraan International Conference on Bioinformatics 2019. Ini menyambut mengeliatnya  penerapan semangat era industri 4.0 di Indonesia, dan Universitas YARSI  menjadi salah satu  institusi perguruan tinggi swasta yang telah menginiasi pertemuan internasional bioinformatika yang pertama kali di Asia Pacific ini, sehingga apreasi  perlu disampaikan ke teman-teman Universitas YARSI yang telah berhasil menyelenggarakannya,” ujar Dimyati.

Menurut Dimyati, kegiatan yang diselenggarakan Universitas YARSI ini sejalan dengan  kebijakan Kemenristekdikti  untuk memanfaatkan perkembangan teknlogi industri 4.0 dengan sebaik-baiknya, baik dari aspek IT, biologi,  kimia dan sebagainya.

“Sehingga kita bisa memanfaatkannya untuk kemajuan bangsa Indonesia  untuk ke depannya,” ungkap Dimyati.

Dimyati menambahkan, pihaknya dari Kemristekdikti berharap,  hasil dari  InCob 2019 bisa memberikan masukan terhadap perbaikan ekosistem riset di tanah air dan juga ujuang-ujungnya nanti akan berpengaruh positif bagi perbaikan kondisi kesehatan masyarakat di Indonesia.

“Itu semua akan menjadi bagian dari daya saing yang diperjuangkan terus oleh Pemerintah kita,” tutup Dimyati.

InCoB 2019 sendiri memiliki tema “Bioinformatics for Precision Medicine”. Konferensi ini melibatkan 8 pembicara utama, sesi diskusi panel, workshop dan demo perangkat lunak, beberapa sesi oral parallel dan sesi poster. Selain itu, InCoB  diawali dengan rapat tahunan Global Organisation for Bioinformatics Learning, Education & Training (GOBLET) dan South East Asian Pharmacogenomics Research Network (SEAPharm). Kemudian, konferensi ini juga  diadakan bersamaan dengan Genomic Medicine Conference (GMC) yang merupakan flagship conference dari Pusat Penelitian Genetik Universitas YARSI. Keempat event tersebut menjanjikan kesempatan yang langka untuk diseminasi ilmiah dan pertukaran ilmu pengetahuan dan keahlian antara komunitas sains dan industri di Indonesia dengan komunitas global.

Menurut Fasli Jalal,  InCoB 2019 dan keseluruhan satelite events yang akan diadakan di Universitas YARSI bertujuan untuk meningkatkan diseminasi dan publikasi ilmiah berskala internasional di bidang bioinformatika, genetika, personalized medicine dan bidang-bidang yang terkait dengannya; mempercepat penyebaran dan pertukaran ilmu pengetahuan dan keahlian di bidang bioinformatika; meningkatkan jaringan kerjasama antara akademisi dan industri di Indonesia dengan individu, lembaga, maupun komunitas tingkat dunia.

“Adapun manfaat yang ingin dicapai adalah guna meraih kesinambungan (sustainability) edukasi, riset, dan pelatihan di bidang bioinformatika dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu penggerak kemajuan bioinformatika, genetika dan personalized medicine di kawasan Asia Pasifik,” tambah Fasli.

APBioNet sendiri merupakan organisasi internasional nirlaba yang dibentuk pada tahun 1998 dan memiliki fokus memajukan bioinformatika di Kawasan Asia Pasifik. Misi APBioNet sejak awal adalah menjadi pelopor pertumbuhan dan perkembangan pendidikan, pelatihan, pengetahuan, infrastruktur, sumber daya dan penelitian di bidang bioinformatika di antara negara-negara anggota. APBioNet memiliki lebih dari 20 organisasi anggota dan 2.000 anggota perorangan yang tersebar di lebih 12 negara anggota di wilayah Asia Pasifik. Saat ini, APBioNet merupakan organisasi regional bioinformatika terbesar di Asia Pasifik, dan salah satu yang tertua. Organisasi ini terus memperluas keberadaannya di wilayah ini dengan terus merangkul komunitas ilmiah dan industri secara aktif melalui konferensi unggulannya, yaitu International Conference on Bioinformatics (InCoB).

Sementara itu  InCoB merupakan flagship conference dari APBioNet, yang diinisiasi di Bangkok, Thailand pada tahun 2002. Selama 18 tahun, IncoB telah diselenggarakan setiap tahun di berbagai negara di Asia Pasifik dan telah berkembang menjadi salah satu konferensi bioinformatika terbesar yang menargetkan para praktisi yang berasal dari latar belakang biologi maupun komputer. Namun, Indonesia belum pernah sekalipun mendapatkan kepercayaan sebagai tuan rumahnya. Nah, sejak tahun 2016, Pusat Penelitian Genetik Universitas YARSI telah mencoba mengajukan bidding kepada APBioNet untuk membawa InCoB ke Indonesia.

“Akhirnya perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan ditunjuknya Indonesia melalui Universitas YARSI sebagai tuan rumah InCoB 2019. Hal ini merupakan hal yang patut disyukuri dan disambut dengan baik oleh pemerintah dan komunitas ilmiah di Indonesia, karena dunia internasional mulai mengenali dan mengapresiasi perkembangan bioinformatika di Indonesia,” demikian tutup Fasli Jalal.

 

 

 

 

More Stories
CIMB Niaga Syariah Dorong Wakaf Digital