Pakar Ekonomi Syariah, Dr. Muhammad Syafii Antonio

Umat Muslim Indonesia Hanya Kuasai 18 Persen Aset

Ekonomi Indonesia tumbuh, tapi tumbuhnya tanpa pemerataan yang baik, 58 persen asetnya dikuasai konglomerat.

Pakar Ekonomi Syariah, Syafi’i Antonio menghimbau kita semua harus bersyukur,  karena secara global perkembangan keuangan syariah Indonesia tumbuh 5,3 persen. Namun sayangnya, kata dia, pertumbuhan 5 persen ini dihela oleh beberapa gelintir orang.

“Ekonomi di Indonesia ini tumbuh, tapi tumbuhnya tanpa pemerataannya yang baik. Nah, ini sangat berbahaya karena dimana-mana tumbuh kemiskinan, pengangguran tambah banyak. Jadi secara keseluruhan kemiskinan tidak signifikan,” kata Syafi’i dalam “Outlook DKI Jakarta 2017”, di Hotel Sofyan Menteng, Kamis (22/12).

Yang lebih berbahaya sesungguhnya menurut Syafi’i adalah piramida terbalik dari komposisi aset nasional yang mana ini harus diluruskan secara serius. Kalau tidak ini bahaya latin lebih bahaya dari PKI yang sekarang mulai bangkit.

Kenapa bahaya? Dia berpendapat, ada bahaya PKI dibiarkan dan itu lebih bahaya lagi. Jadi kita mengganggap itu tidak berbahaya ternyata salah. Sama halnya, satu kesalahan besar kita mengganggap diri kita tidak salah. Kalau salah kemudian sadar itu bagus, tapi ketika salah mengganggap diri tidak salah itu yang paling bahaya.

Nah, lanjut Syafi’i, Indonesia mengganggap PKI itu tidak berbahaya. Padahal bahayanya sangat luar biasa. Kita lihat setelah reformasi, sebelum reformasi, dan saat ini, ternyata piramida penduduk Indonesia dari sisi ras dan agama itu bisa digambarkan secara mudah. Misalnya, kata dia, ada beberapa kajian INDEF dan kampus itu menunjukkan kalau Muslim itu sekitar 89 persen, yang non Muslim 13 persen.

Syafi’i merincikan, 13 persen ini yakni Kristiani sekitar 9 persen, Hindu, Budha dan Honghucu kurang lebih 4 persen. Tetapi penguasaan aset dari saudara-saudara kita ini, justru sangat berbahaya. 58 persen itu dikuasai oleh konglomerat, 24 persen BUMN, 10 persen koperasi sektor formal, dan 8 persen dikuasi oleh sekitar 57 juta UKM.

”Nah, saudara-saudara kita yang Muslim itu pastinya menguasai yang 8 persen, dan sebagian yang 10 persen. Jadi, yang asli dikuasai Muslim itu cuma 18 persen,” kata Syafi’i.

Lalu siapa mitra BUMN?
BUMN, kerja samanya kadang dengan China.  Dengan isu kebocoran imigrasi hingga membludaknya tenaga China membludak ke Indonesia, di tengah lautan juga banyak orang China. ”Jadi, dari 24 persen itu pun banyak tertarik ke porsi non Muslim, dan 58 persen itu konglomerat. Jadi sedikit yang Muslimnya,” ujarnya.

Mengapa harus dibilang Muslim, non Muslim? Karena menurut Syafi’i, ternyata komposisi ini yang menyebabkan ekonomi Indonesia rentang terhadap ketidakadilan dan ketidaknyamanan, yang akhirnya menjadi mudah tersulut dan kemudian menjadi hal yang membahayakan keamanan.

Apa yang terjadi akibat ketimpangan peramataan ekonomi?Dibanyak negara dikatakan Syafi’i, seperti Malaysia terjadi kerusuhan, demikian juga di Indonesia pada 1998.

58% ekonomi bangsa dikuasai konglomerat Click To Tweet

Kenapa Jakarta Jadi Penting?
Sesungguhnya, tegas Syafi’i, yang terjadi dengan aksi 212 memang isu di depannya adalah penista Al-Quran. Tetapi gunung es di bawahnya itu adalah rasa ketidakadilan ekonomi sosial. Ini akan semakin parah kalau tidak diantisipasi dengan baik.

”Nah, di sini letaknya Jakarta menjadi penting. Karena 60 persen perputaran uang nasional itu ada di Jakarta. Dan seluruh pasar modal kegiatannya terbesarnya di Jakarta. Kantor-kantor pusat konglomerat dan BUMN ada di Jakarta, seluruh menteri juga di Jakarta, begitu juga duta besar negara. Tidak ada di Cianjur apalagi di Bogor,”  papar Syafi’i.

Jadi tegas, Syafi’i, siapapun yang akan memimpin Jakarta, itu harus memiliki kekuatan kepada semua perizinan dan bangunan serta lain sebagainya. Apakah ada keberpihakan tentang kebijakan ekonomi politik ke depan atau mungkin akan dilempar ke pasar begitu saja?

“Saya khawatir, jika dilempar ke market begitu saja, sama dengan membiarkan mobil mercy bertarung dengan Bajaj.  Mobil mercy dengan mesinnya yang sangat bagus, sedangkan Bajaj diibaratkan pelaku mikro. MasyaAllah lawla wala quwwata illa billah, sebagian lainnya innalillahi rojiun,” ujarnya.

Kembali, Syafi’i mencontohkan pasar bebas, misalnya pengembang properti yang membangun rumah sederhana tidak bisa bersaing dengan pengembang modal triliunan. Apalagi ada strategi kemitraan internasional, pengembang besar itu bisa mengambil Bekasi, misalnya 300 hektare, Jambi 2000 hektare, Kalimantan 1 juta hektare.

“Ada lagi konglomerat Indonesia ini memiliki tanah 3,5 juta hektare, sementara rakyat atau umat Muslim untuk punya tanah 100 meter saja susahnya luar biasa,” ujarnya.

Kalau misalnya bersaing Mercy dengan Bajaj, kata Syafi’i itu pasti apple to apple, diperlukan alternatif solusi bagaimana bangsa ini dibangun secara bersama-sama kemudian ada equality yang bagus. “InsyaAllah akan sangat baik,” pungkas Syafi’i.

More Stories
uang tunai di Mandiri Syariah.
Mandiri Syariah Siapkan Uang Tunai Rp 13,1 T Sambut Lebaran