Tangkap Peluang Bisnis, CIMB Niaga Syariah Optimalkan Keunggulan

Industri perbankan Syariah di Indonesia diyakini dapat terus berkembang dan berkontribusi memajukan perekonomian nasional. Pasalnya, banyak peluang dan potensi yang dapat dimaksimalkan, salah satunya berasal dari sektor pembiayaan.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga – Pandji P. Djajanegara mengungkapkan, hingga saat ini pembiayaan industri perbankan Syariah masih didominasi oleh sektor consumer. Padahal, perbankan Syariah juga memiliki potensi yang besar untuk turut serta dalam pembiayaan sektor korporasi.

Untuk menangkap peluang tersebut, lanjut Pandji, Unit Usaha Syariah PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga Syariah) secara aktif bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk menyalurkan pembiayaan berskema Syariah.

“CIMB Niaga Syariah tercatat sebagai satu-satunya UUS Bank BUKU IV di Indonesia. Posisi ini memberikan keleluasaan bagi kami untuk berkontribusi dalam pembiayaan proyek-proyek berskala besar. Kami akan terus mengoptimalkan keunggulan ini untuk menangkap peluang pembiayaan Syariah di bidang infrastruktur di masa depan,” ungkap Pandji dalam siaran pers CIMB Niaga baru-baru ini di Medan, Sumatera Utara.

Berdasarkan data CIMB Niaga, hingga 30 September 2018 CIMB Niaga Syariah telah menyalurkan total pembiayaan sebesar Rp24,1 triliun, atau tumbuh 62,5% year on year/yoy. Dari jumlah tersebut, segmen Business Banking yang antara lain menyalurkan pembiayaan ke proyek-proyek berskala besar seperti infrastruktur, memberikan kontribusi terbesar yaitu Rp15,1 triliun, atau bertumbuh 83,4% yoy.

Dijelaskan Pandji, selain menggarap sektor pembiayaan, perbankan Syariah juga diharapkan dapat mengidentifikasi beragam peluang bisnis lainnya serta mampu menghadapi berbagai tantangan, antara lain masih relatif rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah.

Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi tantangan tersebut. Pertama, dari sisi literasi, CIMB Niaga Syariah akan meningkatkan program edukasi tentang perbankan Syariah kepada masyarakat, baik secara langsung maupun dengan memanfaatkan berbagai media.

Kedua, CIMB Niaga Syariah akan memaksimalkan keunggulan yang dimiliki untuk mengatasi tantangan dari sisi produk dan layanan. Sebagai bank yang menerapkan dual banking leverage model (DBLM), CIMB Niaga Syariah akan terus memanfaatkan keahlian SDM dan kelengkapan infrastruktur yang dimiliki bank induk untuk menghadirkan inovasi produk dan layanan yang berkualitas.

“Kami ingin agar nasabah merasakan pengalaman perbankan yang tidak kalah dari bank induk, baik dari sisi kualitas produk maupun layanan. Dengan menjaga customer experience yang setara bank induk, maka preferensi nasabah terhadap bank Syariah akan lebih besar,” ujar Pandji.

Selain itu, Pandji menegaskan, CIMB Niaga Syariah juga akan memperkuat positioning sebagai bank Syariah yang mengedepankan nilai-nilai universal yang dapat melayani aspirasi semua segmen nasabah, baik loyalis, rasionalis, maupun konvensional.

Berdasarkan uraian di atas, terlihat potensi pengembangan ekonomi dan sistem keuangan syariah masih relatif besar. Namun hal tersebut turut pula dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Indonesia tahun 2019 sebagaimana yang dipaparkan oleh Chief Economist CIMB Niaga – Adrian Panggabean.

Menurut Adrian, perekonomian Indonesia pada 2019, sebagaimana terlihat dari fluktuasi yang terjadi di bulan Januari 2019, diprediksi masih akan dihadapkan dengan sejumlah tantangan dan ketidakpastian, baik eksternal dan internal. Karena itu, ia mengajak para pelaku ekonomi tetap berhati-hati dan jeli. Selain itu, pemangku kebijakan ekonomi juga perlu membuat formulasi kebijakan yang tepat dan antisipatif.

Dijelaskan Adrian, fluktuasi tajam dalam harga-harga di pasar finansial akan terus berlanjut di 2019, sebagai efek dari naiknya suku bunga. Efeknya adalah pada prospek pergeseran ekstrim dalam harga-harga aset seperti valuta asing, obligasi, dan indeks harga saham. Naik tajamnya suku bunga di 2018 (dan kemungkinan sedikit berlanjut di 2019) berpotensi mempengaruhi dinamika ekonomi di 2019.

Dari sisi eksternal, lanjut Adrian, tantangan terhadap perekonomian Indonesia berasal dari sejumlah faktor, seperti ketidakpastian frekuensi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) dan perlambatan ekonomi di China serta bentuk respon kebijakan bank sentral China. Selain itu, prospek normalisasi moneter di Zona Eropa, gesekan geopolitik yang berimbas pada harga minyak, serta prospek berlanjutnya perang dagang antara AS dan China adalah faktor lain yang juga perlu dicermati.

Sementara dari sisi domestik, tetap ketatnya postur kebijakan moneter dan relatif absennya dorongan kebijakan berpotensi menurunkan momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal pemerintah (postur APBN) yang relatif netral terhadap siklus bisnis menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019. Terbatasnya ruang fiskal, yang akan diaksentuasi oleh prospek berlanjutnya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia untuk menjaga nilai rupiah, kemungkinan besar akan berdampak pada pelemahan dinamika sektor riil.

Meski demikian, menurut Adrian, Indonesia masih bisa optimis karena sejumlah hal. Pertama, tingkat inflasi akan tetap terjaga. Kedua, tekanan impor juga diperkirakan akan mulai berkurang di 2019, sejalan dengan hampir rampungnya banyak proyek infrastruktur. Ketiga, terbatasnya frekuensi kenaikan suku bunga acuan di 2019 akan membuat pasar obligasi relatif bergairah. Sehingga, Adrian mengingatkan, dinamika perekonomian yang menantang pada 2019 bukanlah hal yang harus ditakuti.

“Di balik volatilitas, tentunya ada kesempatan. Artinya, di balik tantangan perekonomian Indonesia di 2019, ada banyak peluang yang bisa tetap kita raih dengan penuh optimisme,” tutup Adrian.

 

More Stories
BNI Syariah Catat Rekening Simpel iB Rp 1,08 miliar