Para peserta webinar “Asyiknya Berkarir di Dunia Jurnalistik Bagi Mahasiswa dan Alumni KPI” di Jakarta.

Pentingnya Etika Jurnalistik Islam Di Era Disription

Perkembangan teknologi digital yang sangat cepat dapat membantu kerja jurnalis dalam mengejar deadline dan melakukan interview dengan nara sumber secara jarak jauh (di lain tempat).

Di sisi lain para awak media harus menegakkan etika jurnalistik di era disruption agar kualitas jurnalis terus meningkat.

Setiap profesi dalam menjalankan tugas tidak lepas dari kode etik yang harus ditegakkan. Jurnalis dalam menjalankan tugas reportase tidak lepas dari kode etik junalistik yang harus dipatuhi sehingga menjadi pedoman bagi jurnalis dalam membuat berita sesuai fakta dan berimbang.

“Etika jurnalistik di era disruption atau di era teknologi digital sangat penting. Apalagi jurnalistik sebagai entitas keilmuan dalam Program Studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dipandang sangat penting, karena pada prodi KPI mahasiswa diajarkan etika jurnalistik Islam sebagai bekal jika mahasiswa atau alumni KPI berkarir sebagai jurnalis,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP)Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan Swasta se-Indonesia (Askopis), Muhammad Zamroni, saat menjadi nara sumber webinar nasional dengan tema “Asyiknya Berkarir di Dunia Jurnalistik Bagi Mahasiswa dan Alumni KPI,” belum lama ini, via zoom meeting.

Webinar nasional yang diselenggarakan oleh Prodi KPI Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta, Prodi KPI Universitas Azzahra (UA) Jakarta dan DPP Askopis serta DPD Askopis Se-Jabodetabek & Banten ini menghadikan nara lain diantaranya Wakil Pemimpin Redaksi Koran Republika Nur Hasan Murtiaji, Ketua DPD Askopis se-Jabodetabek & Banten Sihabudin Noor, Kepala Program Studi (Kaprodi) KPI UIC Retna Dwi Estuningtyas dengan moderator Kaprodi KPI UA Kristopo.

Selanjutnya, Zamroni, sapaan akrabnya menjelaskan bagaimana membangun jurnalis Islam dari entitas KPI? “Islam menjadi kritikal yang sangat penting, sehingga nilai-nilai Islam mewarnai ketrampilan dan keilmuan yang penting pada ilmu jurnalistik. Ini yang mendorong kurikulum KPI untuk memasukkan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Salah satunya menjadi jurnalis Islam, karena nilai-nilai yang dibangun adalah nilai-nilai Islami,” jelasnya.

Zamroni memberi contohjurnalis yang menegakkan etika jurnalistik saat menjalankan tugas hingga akhir hayatnya adalah wartawan Koran Bernas Yogyakarta adalahFuad Muhammad Syaffrudin (Udin).Pria kelahiran Bantul Yogyakarta, 18 Februari 1964 ini sebelum menghembuskan napas terakhir dianiaya oleh orang tidak dikenal, dan kemudian meninggal dunia. Sebelum kejadian ini, Udin kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah.

Dosen Prodi KPI UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini juga mengilustrasikan profesi jurnalis bagaikan sebuah pisau, meskipun pisau tersebut karatan tetapi masih dapat digunakan untuk memotong sesuatu. Begitu juga dengan jurnalis, seseorang yang awalnya tidak dikenal setelah dimuat  di media massa menjadi terkenal.

“Profesi jurnalis ini sangat luar biasa karena di era keterbukaan informasi tanpa adanya jurnalis maka masyarakat akan kehilangan informasi,” ujar Zamroni yang pernah mengecap profesi jurnalis di Radar Yogyakarta.

 

More Stories
LinkAja Gandeng Pemerintah Provinsi Bengkulu Maksimalkan Transaksi Digital