Peluang Pasar Ekonomi Syariah Indonesia Masih Besar

Tantangan meningkatkan ekonomi syariah adalah pelaku industri bisa tidak melihat pasar.

Pungky Sumadi,  Deputi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan, mengatakan, industri halal yang harus digarap di pasar dalam negeri peluangnya masih besar.

Indonesia juga terus berupaya untuk mengekspor produk makanan yang bisa berlabel halal ke luar negeri. Pemerintah juga menjaga kualitas kontrol lembaga yang menjaga kualitas makanan-makanan kita kalau dipasarkan di luar negeri.

“Jadi besar sekali peluangnya. Masalahnya adalah yuk kita mulai, siapa yang mau mulai duluan, dan bagaimana memulainya,”  kata Pungky ditemui pada seminar ISEO 2018 di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia (UI) Depok, Selasa (5/12).

Dia menegaskan, bahwa tantangan untuk meningkatkan ekonomi syariah 2018 adalah dari para pelaku industri bisa tidak melihat pasar yang ada di depan mata. Lalu bekerjasama dengan para investor  atau lembaga penyandang dana lainnya untuk mulai bergerak berekpansi ke luar.

“Ini yang kadang-kadang takut karena peluang di dalam negeri masih besar nanti saja deh. Banyak sekali yang saya lihat seperti itu. Jadi selalu menunggu-nunggu yang akhirnya kesempatan di depan mata di ambil orang duluan,” kata Pungky.

Contoh sebut dia, Indonesia pernah mendapatkan undangan untuk memperbesar bank syariah dari Suriname. Undangan itu diberikan langsung oleh Duta Besar Suriname kepada Indonesia, dengan penjelasan bahwa peluangnya dengan bisnis sampingan. Misalnya, kelapa sawit, mebel, dan lainnya yang bisa digarap oleh perbankan syariah Indonesia bekerjasama dengan bank syariah setempat.

Tapi jelas dia, karena kondisi kita belum memungkinkan berekspansi. Maka, Malaysia yang masuk duluan. “Jadi kita kalah cepat bergerak. Peluang bisnis yang ada tidak termanfaatkan dengan cepat dan baik karena kita masih banyak hal-hal yang dipikirkan,” pungkasnya.

More Stories
Laznas BMM Ajak 1.100 Yatim Dhuafa Bermain di Dufan