Direktur Utama BRI Syariah - Ngatari (ketiga dari kiri) bersama jajaran manajemen BRI Syariah lainnya usai konferensi pers di Kantor Pusat BRI Syariah, Jl Abdul Muis, Jakarta (30/4).

Ngatari, Direktur Utama BRI Syariah Gantikan M Hadi Santoso

Untuk pertama kalinya, PT. Bank BRIsyariah, Tbk. (BRI Syariah) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sejak resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Mei 2018 lalu.

RUPST yang digelar pada Senin, 29 April 2019 di Gedung BRI Corporate University, Ragunan, Jakarta tersebut, telah menyetujui enam agenda, di antaranya persetujuan laporan tahunan termasuk penyampaian laporan pertanggungjawaban realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham perseroan (Inital Public Offering/IPO) tahun 2018, dan perubahan susunan pengurus.

Susunan manajemen baru diharapkan dapat mendorong akselerasi implementasi strategi inisiatif BRI Syariah selama 5 tahun ke depan. Selama ini progress terkait hal tersebut selalu menjadi perhatian utama para stakeholders yang dievaluasi secara berkala agar target yang ditetapkan dapat tercapai sesuai visi misi BRI Syariah.

Susunan manajemen baru BRI Syariah berdasarkan hasil RUPST tersebut adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama: Parman Nataatmadja*,  Komisaris Independen: Eko Suwardi, Komisaris Independen: Ernie Tisnawati Sule*,  Komisaris: Sutanto*.

Direksi: Direktur Utama: Ngatari*, Direktur Bisnis Komersil: Kokok Alun Akbar, Direktur Bisnis Ritel: Fidri Arnaldy*,  Direktur Operasional: Fahmi Subandi*, Direktur Kepatuhan: Yana Soeprianan*. (*Berlaku  efektif setelah mendapatkan persetujuan OJK dan memenuhi ketentuan yang berlaku).

Direktur Utama BRI Syariah – Ngatari yang menggantikan Dirut sebelumnya Moch. Hadi Santoso berasal dari perusahaan induk, Bank BRI. Sebelumnya Ngatari pernah menjabat beberapa posisi di Bank BRI, antara lain Pemimpin Wilayah Kanwil BRI Jakarta 1, juga Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Bank BRI Makassar.

Hal menarik lainnya dari putusan-putusan yang dihasilkan dari RUPST tersebut adalah putusan terkait penggunaan 10% laba bersih BRI Syariah yang dibagikan sebagai dividen tunai kepada pemegang sahamnya, meski efektif dana hasil penawaran umum BRI Syariah baru diperoleh di pertengahan Tahun 2018. Terlepas dari besaran porsi laba yang dibagikan sebagai dividen tunai tersebut, pembayaran dividen ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap komitmen BRI Syariah untuk terus dapat memberikan yang terbaik bagi seluruh pemangku kepentingannya.

 

More Stories
Laznas BMM Ajak 1.100 Yatim Dhuafa Bermain di Dufan