Ilustrasi. Foto: MySharing

Lelang Wakaf Catat Komitmen Rp 30,32 Miliar

Bank Indonesia (BI), Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan Lembaga-lembaga Nazhir Indonesia yang tergabung dalam Forum Wakaf Produktif berkolaborasi menyelenggarakan lelang wakaf pada tanggal 6 – 7 Oktober 2020 di Jakarta.

Lelang wakaf tersebut  berhasil mencatatkan komitmen penyaluran wakaf produktif sebesar Rp30,32 Miliar.

Pelaksanaan lelang wakaf ini bertujuan untuk lebih memberikan pemahaman masyarakat mengenai wakaf,  khususnya wakaf produktif, serta mendorong partisipasi publik dalam berwakaf untuk mendukung pembangunan ekonomi.

Konsep Wakaf Produktif itu sendiri adalah pengelolaan wakaf dengan menggabungkan aset wakaf tidak bergerak (seperti tanah dan bangunan) dengan penghimpunan wakaf uang agar wakaf harta tidak bergerak dapat memberikan manfaat kepada mauquf ‘alaih.

Penandatangan komitmen wakaf tersebut dilakukan dalam High Level Seminar on Waqf “Akselerasi Gerakan Wakaf Menuju Indonesia Maju” pada hari Kamis (08/10) secara virtual.

Rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari pekan wakaf dalam rangka Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) Virtual 2020, dan akan mencapai puncaknya pada 27 – 31 Oktober 2020.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) –  Sugeng dalam sambutannya menyampaikan, bahwa untuk lebih mengoptimalkan wakaf di Indonesia, terdapat lima langkah yang perlu diambil.

Pertama, perlunya perubahan mindset dan peningkatan literasi. Misalnya, pemahaman bahwa wakaf tidak hanya tanah dengan peruntukan yang terbatas, namun dapat bermacam-macam bentuk termasuk tunai.

Kedua, inovasi produk wakaf menjadi social-commercial financing. Pada maret 2020, BI, Kementerian Keuangan dan BWI telah meluncurkan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS)[2].

Ketiga, penguatan ekosistem rantai nilai halal (halal value chain) sebagai objek wakaf produktif dan kredibel, antara lain melalui pesantren dan UMKM syariah.

Keempat, transparansi dalam keseluruhan proses wakaf mulai dari penyaluran dari wakif kepada nazhir, sampai dengan penggunaannya untuk sektor produktif.

Dan kelima, digitalisasi dalam mekanisme penyaluran wakaf, baik untuk tujuan sosial maupun integrasi social-commercial dalam CWLS, antara lain melalui pemanfaatan QRIS (QR Code Indonesian Standard) dalam penyaluran wakaf.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementrian Agama – Kamaruddin Amin menyampaikan strategi dalam meningkatkan literasi wakaf di Indonesia.

“Peningkatan literasi waqaf tersebut penting dalam upaya mengoptimalkan pengembangan wakaf. Oleh karena itu, Kementerian Agama melalui strategi menuju gerakan wakaf inklusif melakukan beberapa langkah yaitu meningkatkan literasi wakaf masyarakat, menyesuaikan regulasi wakaf, memperkuat standar kompetensi nazir, mengembangkan instrumen wakaf serta memperluas kerja sama dalam rangka memproduktifkan aset masyarakat,” demikian jelas Kamaruddin Amin.

Optimalisasi pengembangan wakaf menjadi aset produktif memberikan banyak manfaat dalam perekonomian. Hal itu diungkapkan Ketua BWI, Mohammad Nuh yang mencontohkan salah satu bentuk implementasi pengelolaan wakaf produktif dari wakaf linked Sukuk senilai Rp 51 milar adalah pengembangan retina dan glaucoma center.

Webinar tersebut juga menghadirkan pembicara Luky Alfirman, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan, dan Heru Kristiyana Anggota Dewan Komisioner – Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan serta diikuti oleh perbankan dan Lembaga-lembaga Nazhir Indonesia. Masyarakat dapat mengikuti rangkaian kegiatan ISEF 2020 secara virtual dengan mengunjungi ISEF Integrated Virtual Platform 2020 (https://isef.co.id.)

 

 

 

 

 

 

More Stories
Mandiri Syariah Sinergi dengan Askrindo Syariah dan Jamkrindo Syariah Dukung PEN