Para driver ojol yang mengikuti program cash for work dari Baznas.

Inovasi Pengelolaan Zakat Dalam Membantu Masyarakat Terdampak Covid-19

Perlu dilakukan inovasi-inovasi baru dalam pengelolaan zakat, guna membantu masyarakat terdampak Covid-19.

Hal tersebut terungkap dalam Webinar Inovasi Zakat di Era Pandemi Covid-19 baru-baru ini di Jakarta.

Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS – Irfan Syauqi Beik mengatakan, di saat pandemi Covid-19 di mana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau social distancing membatasi gerak masyarakat dan tentu berpengaruh kepada pendapatan mereka.

“Hal ini menginisiasi BAZNAS membuat program-program yang compatible diterapkan di masa saat ini, seperti cash for work yaitu pemberdayaan mustahik dengan memanfaatkan potensi yang mereka miliki,” jelas Irfan dalam webinar ini.

Menurut Irfan, program cash for work ini dibagi menjadi dua bentuk yaitu pemberian bantuan berupa tunai dan non tunai.
 
“Contoh ojol kita berdayakan dengan membantu penyemprotan disinfektan dan penyaluran logistik dan ada juga bantuan non tunai senilai dengan bantuan tunai, berbentuk kupon yang dapat ditukarkan di z-mart,” papar Irfan.
 
Sementara itu, Ketua Forum Zakat (FOZ) – Bambang Suherman menjelaskan, FOZ melakukan terobosan dalam pemberdayaan mustahik salah satunya dengan program ‘budikdamber’. Program ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat terutama yang terkena dampak Covid-19.
 
“‘Budikdamber’ merupakan program budi daya ikan lele menggunakan media ember berukuran 70 liter diisi dengan 50 ekor bibit lele, serta dialiri air ke permukaan ember dengan ditaruh 15-17 gelas air mineral berisikan arang lalu di dalamnya ditanami kangkung darat. Setelah 40 hari, kangkung dan ikan lele dapat dipanen “kira-kira sekali panen berat 1kg lele menghasilkan 4 sampai 5 ekor lele,” jelas Bambang.
 
Menurut Bambang, program ini dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dalam bentuk serat kangkung dan protein dalam bentuk ikan lele. ‘budikdamber’ awalnya merupakan program berbasis keluarga lalu dikembangkan ke basis komunal.

“Misalkan, dalam 1 RW terdapat 50 KK yang tidak mampu, lalu menerapkan program ‘budikdamber’, setiap panen menghasilkan 50 ekor lele berarti ada 2500 ikan lele. Untuk itu kita terapkan panen bergilir agar warga sekitar sama-sama menikmati hasilnya,” kata Bambang.

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) melalui Direktur Keuangan Inklusif Dana Sosial Keagamaan dan Keuangan Mikro Syariah Ahmad Juwaini mengapresiasi inovasi-inovasi positif  yang dilakukan lembaga zakat dalam pengelolaan zakat. Menurut Ahmad Juwaini, tentunya hal ini tidak terlepas dari sinergitas dan kerjasama berbagai lembaga.

“Saat ini Indonesia merupakan negara paling inovatif dalam urusan zakat, karena Indonesia menginisiasi terbentuknya World Zakat Forum dan juga satu-satunya negara yang mempunyai PSAK 109 panduan akuntansi zakat,” demikian kata Ahmad Juwaini.

More Stories
BNI Syariah Siapkan Uang Tunai Rp 2,1 Triliun Sambut Lebaran