Ini 3 Cara Negara Menerbitkan Sukuk

Penerbitan Sukuk Negara tak hanya melalui metoda lelang. Namun juga dengan metoda bookbuilding, dan juga penempatan langsung. Yuk, pahami lebih jauh ketiga metoda penerbitan Sukuk Negara tersebut!

Berdasarkan buku Sukuk Negara: Instrumen Keuangan Berbasis Syariah yang diterbitkan Direktorat Pembiayaan Syariah, DJPPR, Kementerian Keuangan, penerbitan Sukuk Negara dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu bookbuilding, penempatan langsung (private placement), dan lelang (auction).

Berikut penjelasan mengenai ketiga jenis metode penerbitan Sukuk Negara tersebut.

1.Bookbuilding. Ini merupakan salah satu metoda penerbitan surat berharga, dimana investor akan menyampaikan penawaran pembelian atas suatu surat berharga, biasanya berupa jumlah dan harga (yield) penawaran pembelian, dan dicatat dalam book order oleh investment bank yang bertindak sebagai book runner.

Berdasarkan PMK Nomor 199/PMK.08/2012 tentang Penerbitan dan Penjualan SBSN dengan Cara Bookbuilding di Pasar Perdana Dalam Negeri, yang dimaksud dengan bookbuilding adalah kegiatan penjualan SBSN kepada pihak melalui agen penjual, di mana agen penjual mengumpulkan pemesanan pembelian dalam periode penawaran yang telah ditentukan.

Dalam rangka penerbitan SBSN di pasar perdana melalui bookbuilding, pemerintah membentuk Panitia Pengadaan untuk menyeleksi calon Agen Penjual. Yang dapat menjadi Agen Penjual adalah bank atau perusahaan efek. Contoh penggunaan metoda penerbitan Sukuk Negara melalui bookbuilding ini dilakukan pada penerbitan Sukuk Negara Ritel.

2. Private Placement. Ini merupakan salah satu Metoda penerbitan surat berharga, dimana kegiatan penerbitan dan penjualan surat berharga dilakukan oleh pihak penerbit kepada pihak tertentu dengan ketentuan dan persyaratan (terms of condition) yang disepakati bersama.

Berdasarkan PMK Nomor 239/PMK.08/2012 tentang Penerbitan dan Penjualan SBSN dengan Cara Penempatan Langsung (Private Placement), yang dimaksud dengan private placement adalah kegiatan penerbitan dan penjualan SBSN yang dilakukan Pemerintah kepada pihak (perseorangan WNI/WNA, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, Bank Indonesia, atau Lembaga Penjamin Simpanan) dengan ketentuan dan persyaratan SBSN sesuai kesepakatan.

3. Lelang. Lelang surat berharga adalah suatu metoda penerbitan penjualan surat berharga yang diikuti oleh peserta lelang dengan cara mengajukan penawaran pembelian kompetitif dan/atau penawaran pembelian non kompetitif dalam suatu periode waktu penawaran yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan PMK Nomor 05/KMK.08/2012, terdapat 2 definisi lelang terkait SBSN, yaitu lelang SBSN, dan lelang SBSN tambahan.

Lelang SBSN adalah penjualan SBSN yang diikuti peserta Lelang SBSN, Bank Indonesia, dan/atau Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk lelang SBSN jangka pendek, atau Peserta Lelang SBSN dan/atau LPS untuk lelang SBSN jangka panjang, dengan cara mengajukan penawaran pembelian kompetitif dan/atau penawaran pembelian non kompetitif dalam suatu periode waktu penawaran pembelian yang telah ditentukan dan diumumkan sebelumnya melalui sistem yang disediakan agen yang melaksanakan lelang SBSN. Sedangkan lelang SBSN tambahan (green shoe option) adalah penjualan SBSN di pasar perdana dengan cara lelang yang dilaksanakan pada 1 (satu) hari kerja setelah tanggal pelaksanaan lelang SBSN.

Sejak tahun 2009, Pemerintah melalui Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia mulai melakukan penerbitan SBSN dalam denominasi rupiah di pasar perdana dalam negeri dengan cara lelang.

More Stories
Mandiri Syariah Sediakan Fitur Pembelian Hewan Kurban di Mobile Banking