Suasana peluncuran 200 zona layanan baru Dompet Dhuafa di Balai Kartini, Jakarta (30/10).

Dompet Dhuafa Resmikan 200 Zona Layanan Di 34 Provinsi

Dompet Dhuafa terus meluaskan sebaran manfaat. Setelah menapaki perjalanan 26 tahun di program-program kemanusiaan, Dompet Dhuafa meluncurkan 200 zona layanan baru yang tersebar di 34 provinsi Indonesia pada hari ini, Rabu (30/10) di Balai Kartini, Jakarta.

Setiap perwakilan 200 lembaga dari berbagai daerah di Indonesia, datang untuk menandatangani peresmian zona layanan baru tersebut. Selain itu, prosesi peluncuran juga turut disaksikan oleh Perwakilan dari Kementerian Agama, Direktur Eksekutif DEKS Bank Indonesia, Direktur Zakat Kemenag RI, CEO Tanihub, Finnet Indonesia, dan Ketua Forum Organisasi Zakat.

“Di era 4.0 ini, Dompet Dhuafa meyakini bahwa banyak orang ingin terlibat dalam kebaikan. Terutama untuk membantu orang lain. Kemudian saat mengelola permasalahan kemiskinan dan kemanusiaan, harus melibatkan banyak pihak. Sekarang ini adalah zaman keterhubungan, maka digitalisasi menjadi penting untuk menguatkan kanal penghimpunan. Seperti lahirnya bawaberkah.org dan MUMU Apps sebagai payment gateway di Dompet Dhuafa. Sehingga dengan semakin luasnya jaringan dan pendekatan digital, maka semakin luas pula Dompet Dhuafa dalam mengintervensi problematika kemiskinan di negeri ini,” jelas Nasyith Majidi, selaku Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa.

Menurut Nasyith Majidi, perluasan 200 Zona Layanan di 34 provinsi, menjadi percepatan Dompet Dhuafa dalam mengentaskan kemiskinan. Karena di data BPS, kemiskinan di Maret 2019 masih mencatatkan angka 9,41 persen, menurun 0,25 persen poin terhadap September 2018 dan menurun 0,41 persen poin terhadap Maret 2018. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang, menurun 0,53 juta orang terhadap September 2018 dan menurun 0,80 juta orang terhadap Maret 2018.

Langkah menghadirkan ruang kolaborasi 200 Zona Layanan atau dalam nomenklatur kita kenal dengan sebutan cabang, menjadi desain dari pola kolaborasi lembaga dan organisasi legal untuk terlibat, serta berperan membantu orang lain, dalam konteks ini adalah dhuafa. Para pihak yang tergabung dalam 200 Zona Layanan, tentu memiliki keunggulan spesifik masing-masing.

Karena itu, lanjut Nasyith, perluasan jaringan memungkinkan bagi Dompet Dhuafa untuk memiliki variasi dan kekayaan dalam metode pengelolaan baku mengatasi permasalahan kemiskinan. Langkah tersebut turut menumbuhkan pola-pola di masyarakat dalam mengatasi kemiskinanan.

“Semangat kolaborasi 200 Zona Layanan selain dalam intervensi problematika kemiskinan, juga menguatkan lembaga lain untuk bertumbuh membantu sesama. Setelah mengantongi sejumlah prasyarat seperti portofolio fundrising, tata kelola keuangan, penyaluran dalam bentuk program, bersedia menerapkan value-value Dompet Dhuafa, lembaga atau organisasi tersebut dapat bergabung dalam zona layanan. Di sini Dompet Dhuafa hanya akan mengontrol aspek produk saja. Sedangkan pendekatan strategisnya menjadi wewenang masing-masing lembaga yang bergabung. Tetapi untuk lembaga yang belum memiliki sistem, sangat memungkinkan untuk mengadopsi apa yang ada di Dompet Dhuafa. Sehingga dengan cepat dapat memiliki pola tersistem dalam mengelola penghimpunan dan program pemberdayaan,” tambah Nasyith Majidi.

Dengan peluncuran 200 zona layanan yang mencakup 34 provinsi, diharapkan Dompet Dhuafa dan mitra-mitranya dapat menjangkau para dhuafa lebih luas lagi. Mungkin selama ini yang belum tersentuh oleh layanan akat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf). Sehingga upaya transformasi dari mustahik ke muzakki semakin cepat tercapai.

“Ukuran keberhasilan Dompet Dhuafa sebenarnya simple. Ketika orang yang awalnya menjadi penerima manfaat, kemudian menjadi pemberi manfaat, maka itulah indikator keberhasilannya,” ungkap Nasyith Majidi, selaku Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa.

Nasyith menekankan, Dompet Dhuafa akan terus berupaya mengentaskan dhuafa-dhuafa Indonesia dari jeratan rantai kemiskinan. Salah satunya dengan menggandeng lembaga-lembaga zakat yang ada di seluruh daerah. Dengan begitu, penerima manfaat akan lebih banyak merasakan kebaikan-kebaikan muzakki.

“Dengan menggandeng dan memayungi lembaga-lembaga pengelola ziswaf lainnya, diharapkan penerima manfaat akan lebih terdata secara rapi. Tentunya manfaat juga semakin luas. Tanpa harus menciptakan trust baru kepada mereka,” terangnya.

Senada dengan itu, Drg. Imam Rulyawan, selaku Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa menambahkan, “Dompet Dhuafa ingin memperluas penerima manfaat. Dengan bergabungnya lembaga-lembaga zakat di berbagai daerah. Tentunya data penerima manfaat akan semakin meluas. Bukan hanya mustahiknya, tapi muzakkinya juga”.

Itulah yang dilakukan Dompet Dhuafa. Membangun trust dari para dermawan tentu tidaklah mudah. Seorang muzakki tentu akan lebih percaya menitipkan zakat kepada lembaga terdekatnya. Selain lebih mudah mengontrol, juga lebih senang jika zakatnya tersalurkan kepada dhuafa-dhuafa terdekatnya.

Tanpa mengubah kepercayaan dan sistem yang sudah berjalan, Dompet Dhuafa menjadikan lembaga-lembaga tersebut sebagai mitra zona layanan. Dengan begitu, segala kegiatan filantropi dan penyalurannya akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Namun akan lebih terstruktur dan terdata lebih rapi.

“Lembaga-lembaga yang telah tergabung dalam zona layanan Dompet Dhuafa akan tetap melangsungkan kegiatan filantropi seperti yang sudah dijalankan sebelum-sebelumnya. Dompet Dhuafa memberi keleluasaan kepada lembaga-lembaga ini untuk menjalankan sistem yang sudah berjalan. Namun jika ada yang ingin mengadopsi sistem dari Dompet Dhuafa, kami akan siap untuk membimbingnya,” terang Imam.

 

More Stories
CIMB Niaga Syariah Dukung Industri Halal, Sinergi dengan BPJPH